Skip to main content

Terapi Kristal


Batu mulia atau kristal, tak hanya indah warna dan bentuknya. Dilihat dari jenis, usia, dan warna, kristal memiliki keistimewaan. Ia bisa memperbesar energi, memfokuskan energi, memindah energi dan menyimpan program. Dengan segala kelebihan ini kristal pun dapat dimanfaatkan sebagai sarana penyembuhan. 

Batu mulia atau kristal kerap diidentikkan dengan batu aji-ajian ataupun jimat, karena memiliki kemampuan tertentu. Kadang dikeramatkan karena bisa menyembuhkan sampai untuk kekebalan. Batu mulia atau kristal sering dianggap gaib. Padahal keistimewaan kristal ini tak lain dan tak bukan karena memiliki daya efek piezo-elektrik dan piro-elektrik. Daya piezo-elektrik adalah daya yang dapat mengubah energi kinetik (daya pukulan) menjadi energi listrik (percikan). Buktinya, bila ujung kristal yang lancip dipukul dalam ruangan gelap, akan menimbulkan percikan api. Sedangkan daya piro-elektrik adalah kemampuan untuk menarik kemudian melemparkan energi listrik akibat menumpuknya muatan listrik pada permukaannya. Efek ini bisa dilihat ketika kristal tourmaline dimasukkan ke dalam bara api. Ketika kristal menjadi panas akan menarik abu kemudian melontarkannya. 

Prinsip Penyembuhan dengan Kristal

Bagaimana prosesnya sehingga kristal dapat menyembuhkan? Timbulnya penyakit sebenarnya merupakan akibat dari ketidakseimbangan energi di dalam tubuh. Yaitu ketidakseimbangan mind, body dan, soul (tubuh, pikiran dan roh). Kalau ketiga unsur ini seimbang berarti orang itu sehat.

Kristal dapat menyelaraskan kembali sirkulasi energi dalam tubuh penderita. Caranya, kristal diletakkan pada cakra utama atau pada bagian tubuh yang sakit. Jenis batu atau kristal yang diletakkan disesuaikan dengan warna cakra pada tubuh. 

Sepintas cara penyembuhannya seperti main-main saja. Karena dalam posisi tidur dan rileks, sekujur tubuh diletakkan batu-batu kristal berwarna-warni. Kelihatannya main-main, tetapi warna dan posisi kristal harus diletakkan secara benar dan tepat pada posisinya. Misalnya cakra di bagian kepala berwarna ungu, diberi kristal jenis kecubung atau ametis yang juga berwarna ungu. Energi yang dipancarkan kristal akan beresonansi dan berinterferensi/ bercampur dengan energi tubuh. Cakra atau bagian tubuh yang kurang sehat akan dibersihkan dan diselaraskan. Jika sembarang menaruh kristal, seperti warna kristal dan cakra pada tubuh tidak sesuaikan, akan berakibat mengacaukan sirkulasi energi tubuh. Bahkan bisa menjadi penyakit nantinya. 

Terapi kristal meskipun tampaknya sederhana saja, seharusnya dikerjakan oleh tenaga ahli yang mengerti betul metode penyembuhan dengan kristal ini. “Seorang terapist yang menggunakan kristal untuk penyembuhan harus tahu betul apa yang akan dilakukannya. Pihak pasien pun boleh bertanya apa yang sedang dikerjakan pada dirinya dan bagaimana nanti hasilnya,” ujar Sumarsono Wuryadi, LRM seorang holistic therapist yang berpraktek di klinik Seroja di daerah Rempoa, Bintaro Jakarta.

Cakra adalah elemen sumber energi manusia. “Dalam proses penyembuhan, kristal nantinya akan memancarkan energi dan beresonansi dengan energi tubuh. Memang tidak terasa secara langsung. Kecuali bagi mereka yang cukup peka, bisa merasakan getaran energi dari kristal yang masuk dan keluar tubuh secara langsung,” begitu paparnya. Proses resonansi ini akan menyeimbangkan cakra tubuh yang kurang sehat.

Cara Lain Memanfaatkan Kristal

Sumarsono menggunakan kristal sebagai sarana penyembuhan dengan meletakkannya di titik-titik cakra atau tempat yang sakit pada penderita. Menurutnya, penyembuhan dengan pemanfaatan kristal tak harus selalu dengan menggunakan metode demikian. Bisa dilakukan dengan cara lain.

Kita bisa memanfaatkan dan mendayagunakan kemampuan kristal semaksimal mungkin. Batu kristal menyimpan manfaat pada warna-warninya. Hanya dengan menggunakannya sebagai asesoris (batu cincin, kalung, anting, gelang) atau meletakkan kristal-kristal itu di meja kerja sebagai hiasan, kita pun dapat memetik manfaatnya. Meletakkan kristal di rumah atau ruang kerja berguna untuk menangkal energi negatif. Atau melengkapi energi yang kurang. Bentuk batu kristal bisa geometrik, segitiga, piramida, lingkaran, atau cluster (bongkahan batu sesuai aslinya). 

Memang, agar kemampuannya dapat lebih terasa nyata, kristal terlebih dulu diberi program. “Programnya bisa berupa doa atau kalimat-kalimat positif yang ditujukan pada kristal. Misalnya sambil disentuh kristalnya, kita mengucapkan ‘kristal ini akan memancarkan energi positif dan menangkal energi negatif’,”ujar Sumarsono. 

Dengan memajang kristal di ruangan misalnya, sadar ataupun tidak, kristal ini akan bekerja menyelaraskan sirkulasi energi di dalam ruangan di mana ia diletakkan. Hasil yang bisa dirasakan secara awam, ruangan akan terasa lebih bersinar, nyaman dan membuat betah orang yang berada di dalamnya. Itu semua bisa dilakukan dengan cara memprogram kristal dan selanjutnya biar kristalnya yang bekerja. Lantas bagaimana kalau kristalnya, diprogram yang jelek-jelek? Bisa saja, jawab Sumasorno sambil tersenyum. Kristal bisa saja “bekerja” menurut kemauan yang memberi program. Namun, hasilnya tidak memuaskan dan justru akan berbalik pada orang yang memprogramnya. Karena pada dasarnya energi yang dipancarkan kristal adalah energi positif dan segala hal yang baik.

Selain kristal digunakan sebagai asesoris, di beberapa rumah mungkin pernah kita temui lampu kristal gantung. Nah, kalau lampu kristal gantung ini memang benar-benar asli terbuat dari kristal dapat dimaksimalkan pemanfaatannya. Sehingga tak sekedar sebagai lampu penerangan saja. Caranya, batu-batu kristal yang biasanya digantung sebagai ornamen-ornamen hiasan pemanis lampu, kita ‘program’. Apalagi lampu kristal biasanya terbuat dari batu jenis quartz yang memancarkan warna-warna aura. “Efeknya, bisa sungguh dahsyat. Selain ruangan menjadi sangat berkesan indah dan gagah, lampu kristal ini bisa menyeimbangkan sirkulasi energi seisi rumah, termasuk menyeimbangkan sirkulasi energi orang-orang yang berada di dalamnya,” jelas Sumarsono. 

Hm, pantas saja lampu kristal gantung mahal harganya. Tak hanya indah, kalau tahu memaksimalkan pemanfaatannya bisa menyelaraskan energi dan menyehatkan seluruh penghuninya… 

Merawat Kristal

Kristal juga perlu dirawat dan dibersihkan. Tujuannya selain untuk membuatnya bersinar kembali juga untuk membersihkan energi negatif atau mentralisir energi. 
  1. Sebening apapun batu kristal alami biasanya ada semacam kabut. Kalau seratus persen tampak bening justru diragukan keasliannya.
  2. Cuci kristal dengan alkohol atau cuci dengan larutan air garam. Komposisinya air satu liter dengan 2 sendok makan garam. Rendam kristal selama 1-6 jam. Kemudian bilaslah dengan air bersih. Selanjutnya keringkan dengan kain lembut. 
  3. Cara lain, bersihkan kristal dengan cara dikucuri air yang mengalir semalaman.
Pengaruh Kristal pada Manusia
  1. Garnet (merah) – menggembirakan, meningkatkan vitalitas tubuh. 
  2. Cornelian (oranye) -kehangatan, meningkatkan gairah hidup 
  3. Amber(kuning) -semangat meraih sukses untuk hidup 
  4. Citrine(kuning) -kemampuan menangkap intuisi, kejujuran 
  5. Olivine (hijau) -ketenangan hati dan kebaikan 
  6. Emerald (hijau zamrud) -cinta universal bumi dan alam semest
  7.  Quartz cristal -membersihkan, mengorganisir energi 
  8. Amatis (ungu) -membangun spiritual

Popular posts from this blog

Aktivasi Intuisi dan Aplikasinya

INDRA KEENAM sering diidentikkan dengan kemampuan untuk melihat makhluk halus, padahal sebenarnya fungsi dari indera keenam sendiri jauh melebihi hanya sekedar melihat makhluk halus. Karena kemampuan melihat makhluk halus hanya merupakan bagian dari kemampuan indera keenam itu sendiri. Seperti intuisi, namun jauh lebih tajam. Apabila intuisi merupakan suatu hasil pengalaman, indera keenam tidak mengenal adanya pengalaman.   Pada hakekatnya anda dapat mendayagunakan kemampuan indera keenam jika anda mengetahui caranya. Karena sekarang ini banyak metode yang di kembangkan agar seseorang dapat menguasai indera keenam. Indera keenam dapat muncul atau bangkit bila seseorang senantiasa mampu mengolah pikiran, jiwa, raga, rasa dan karsa. Dengan cara-cara tersebut, akan terjadi suatu “loncatan fungsi indera”, yaitu dari panca indera ke indera keenam. Loncatan indra ini bisa kita ibaratkan seperti orang tidur, karena tak seorangpun yang dengan kesadaran penuh, bahwa di...

Getaran Jiwa Manusia

Setiap jiwa manusia bergetar dengan frekwensinya masing-masing. Frekwensi jiwa tergantung dari sifat dan kesadaran manusianya. Apakah dia seorang manusia yang mementingkan dirinya sendiri? Ataukah dia seorang yang penuh kasih dan suka berbagi?  Baca: Renungan | Percayalah! Bila dia seorang yang dalam hidupnya penuh kasih, sederhana dan mulia, maka dia akan hidup dalam frekwensi yang baik.  Bila tiba saatnya dia meninggal, maka jiwa yang hidup dengan penuh kasih ini akan langsung menuju alam astral yang memiliki getaran yang sama, yaitu alam astral yang penuh kasih pula. Namun bagi jiwa-jiwa yang dalam hidupnya hanya mementingkan diri sendiri, maka pada saat kematian mereka akan menuju alam astral yang sesuai dengan tingkat kesadarannya.

Bahasa Tuhan

“Guruku Bahasa Inggris itu pasti musuhan sama Guru Bahasa Jawa,” kata Izza suatu malam. “Kok bisa?” “Lha kata Guru Bahasa Inggris, bahasa Inggris itu penting karena itu bahasa internasional. Padahal kata Guru Bahasa Jawa, bahasa Inggris itu enggak penting. Lebih penting bahasa Jawa karena itu sama saja memelihara tradisi dan budaya. Itu kalo di ruang guru bertengkar kali ya?” Saya terkekeh. Apa yang dia bayangkan itu masuk akal juga. Ketika dia diarahkan bahwa satu lebih penting dari yang lain, dia berpikir itu pula yang terjadi dalam percakapan antar guru. Padahal bisa jadi itu hanya salah satu cara guru untuk memotivasi siswa agar mereka maumendalami ilmu yang mereka ajarkan. Saya juga guru bahasa Inggris, tapi saya tidak pernah mengatakan bahwa pelajaran saya lebih penting dari pelajaran lain. Bahkan saya sendiri suka mendalami bahasa Indonesia dan bahasa Jawa.