Skip to main content

Perlunya Sentuhan


Beberapa penelitian menunjukkan bahwa bayi-bayi yang tidak atau jarang disentuh akan mengalami keterlambatan pertumbuhan bila dibandingkan dengan bayi-bayi yang selalu mendapatkan sentuhan. Selain itu, bayi-bayi ini juga memiliki sistem kekebalan tubuh yang lebih lemah, dan lebih gampang menderita sakit. Dampak psikologis terhadap bayi-bayi yang kurang mendapatkan sentuhan ini sungguh sangat memprihatinkan, karena mereka bisa mengalami gangguan emosional yang parah, dan bahkan mereka akan memiliki perilaku yang kasar.

Jika kekurangan sentuhan bisa menimbulkan dampak yang merugikan, maka masuk akal jika pemberian sentuhan dalam jumlah besar atau berkesinambungan akan memberikan manfaat dan menyehatkan. 

Namun, saya kira yang dibutuhkan tidak hanya sekedar sentuhan fisik belaka. Saya yakin sentuhan yang dibutuhkan oleh bayi-bayi itu bukanlah sekedar sentuhan mekanis. Nilai sebenarnya dari sentuhan yang sangat dibutuhkan oleh bayi-bayi itu adalah mengalirnya energi kehidupan dan energi kasih yang terkandung dalam sentuhan tersebut.

Love~light~joy
Sonny Sumarsono Wuryadi

Photo courtesy of yalescientific.org

Popular posts from this blog

Anda Ingin Sukses?

Keinginan untuk sukses adalah usaha yang wajar, sehat dan syah-syah saja bagi setiap orang. Banyak cara yang dilakukan orang untuk mengejar kesuksesan dan kekayaan. Namun sebenarnya yang ikut menentukan keberhasilan seseorang dalam meraih sukses adalah emosi-emosi yang mengiringi atau yang berada disekitar alasan keinginan tadi. Karena emosi-emosi tersebut dapat menentukan sifat energitik dari keinginan tersebut. Bilamana dalam meraih sesuatu keinginan, kita barengi dengan su atu kepercayaan dan keyakinan, maka unsur percaya dan yakin ini akan dapat menimbulkan getaran energi yang mudah mengundang mengalirnya energi menuju terwujudnya hasil kesuksesan.

Kehidupan Setelah Kematian

Janganlah takut mati! Karena ini adalah proses alami, layaknya proses ular yang berganti kulit. Mati hanyalah proses matinya tubuh fisik dan keluarnya roh atau jiwa dari raga, guna melanjutkan perjalanan jiwa menuju alam dan dimensi yang lain. Roh atau jiwa tetaplah hidup! Bahkan pikiran, keinginan, dan obsesi kita tetaplah ada. Dalam bukunya Life after life , Raymond Moody menuturkan kehidupan setelah kematian sebagai berikut:   Setelah seseorang meninggal dunia, maka dia merasa dirinya keluar dari raganya, sehingga dia bisa melihat raganya yang tergeletak di tempat tidur ditunggui sanak keluarganya yang sedang meratapi meninggalnya. Dan dia ingin menghibur, namun tidak seorangpun yang bisa mendengar kata-katanya.

Saat Ajal Tiba...

Menjelang kematiannya seringkali seseorang bermimpi dijemput oleh sanak-keluarganya yang sudah meninggal mendahuluinya . Dan beberapa saat sebelum kematian, penyakit separah apapun tidak akan terasa lagi. Sensasi fisik terasa lebih nyaman dari sebelumnya. Pada saat ajal tiba, manusia hanya melepaskan tubuh fisiknya saja, sedangkan pikiran dan perasaannya masih tetap sama. Jiwanya tetap tidak berubah. Keinginan, memori, obsesi, semuanya masih dimilikinya. Oleh karenanya, dia tetap melihat kerabat dan siapa saja yang menangisi kematiannya. Dia ikut sedih dan berupaya keras untuk menjelaskan bahwa sesungguhnya dia tidak mati. Dia mendekati mereka, menyentuh mereka, dan berusaha menghibur mereka. Namun karena dia sudah tidak memiliki tubuh fisik lagi, maka upaya sentuhannya tidak terasakan. Setelah beberapa saat, dia pun menjadi sadar bahwa upayanya sia-sia. Karena dia tidak bisa berkomunikasi dengan mereka yang ditinggalkan.