Skip to main content

Rasa Keadilan dan Keadilan Rasa


Dunia ini diatur oleh hukum tertulis agar ketertiban, kebenaran, dan keadilan dapat ditegakkan dalam kehidupan manusia. Namun sebenarnya hati nurani memiliki rasa keadilan sendiri. Rasa itulah yang seharusnya menjadi panduan seseorang untuk memilih dan menentukan jalan hidupnya, agar tidak terjebak dalam ikatan-ikatan yang tidak sesuai dengan kondisi dirinya.

Sayangnya, hal keadilan rasa hati ini sekarang semakin tergusur oleh kekuatan hukum keadilan logika yang dijadikan sebagai hukum tertulis. Sehingga banyak orang yang menjadi korban, namun terpaksa tidak bisa berbuat apa-apa, meskipun secara keadilan rasa dia dalam posisi yang benar.
Sebagai contoh, tidaklah mudah seorang istri mengajukan gugatan perceraian, meskipun secara keadilan rasa dia sudah tersiksa dengan ulah suaminya.

Lalu apa ukuran standar keadilan rasa itu? Ukuran standarnya adalah kedamaian hati. Sedangkan kedamaian hati adalah inti dari kebahagiaan hidup seseorang. Hanya kita sendirilah yang bisa mengukur dan merasakan kedamaian dan kebahagiaan hidup ini.

Oleh karenanya, bilamana rasa kedamaian dan kebahagiaan hidup kita terusik, maka kita pun akan merasakan adanya rasa ketidak adilan menimpa diri kita.

Love~light~joy

Popular posts from this blog

Membersihkan dan Mengaktifkan Chakra

Tubuh manusia terdiri dari tubuh Fisik, tubuh Eteris, tubuh Astral, dan Roh. Tubuh Eteris disebut juga dengan Tubuh Bioplasmik, atau istilah populernya adalah Aura. Tubuh eteris yang merupakan sistem energi tubuh manusia ini dilengkapi dengan perangkat sirkulasi energi, yaitu meridian dan chakra-chakra yang bertugas menyirkulasikan energi vital keseluruh bagian tubuh manusia. Ada sekitar 320 chakra yang tersebar di seluruh tubuh, namun yang terpenting adalah 7 chakra utama ya ng mempengaruhi kondisi fisik, psikis, dan spiritual manusia. Bila ketujuh chakra utama ini bersih dan optimal kerjanya, maka kondisi kesehatan fisik, psikis, dan spiritual kita akan dalam keadaan prima (sehat).

Terapi Memaafkan

Rasa dendam, kecewa, marah, dan sedih yang berkepanjangan akan membuat diri kita menjadi tidak tenang, tidak sehat, dan tidak bahagia. Karena bila semua emosi negatif kita pendam dalam-dalam, maka segala gejala penyakit akan bermunculan. Ada satu cara untuk mengatasinya, yaitu dengan terapi memaafkan. Kita harus bisa memaafkan kepada orang-orang yang telah menyakiti hati kita, orang yang kita benci, juga termasuk bisa memaafkan diri sendiri. Hambatan yang paling berat dalam m elepaskan emosi negatif melalui cara ini adalah adanya rasa tidak layak untuk dimaafkan. Padahal dalam proses terapi ini kita harus berani untuk kembali merasakan emosi yang hadir dari rangkaian peristiwa masa lalu yang membuat hidup kita tidak bahagia. Kejujuran dalam mengakui setiap perasaan itulah yang menentukan.

Miliki Pikiran Positif Untuk tetap Sehat dan Sembuh dari Penyakit

Alan Sirait ( 68 tahun ) pada tahun 2001 pernah mengalami penyempitan pembuluh darah sehingga seorang dokter sepesialis jantung menyarankannya untuk menjalani balonisasi (penggunaan balon untuk membuka pembuluh darah yang tersumbat oleh plak). Namun setelah berkonsultasi dengan dokter lain, ia memutuskan untuk tidak melakukan tindakan itu. Ia pasrah pada Tuhan dan optimis bahwa penyakitnya dapat sembuh. Ia justru sempat mengikuti terapi energi kristal dan senam jantung. Beb erapa bulan kemudian, ternyata pemikiran positif dan kedisplinannya dalam menjalani terapi jalan menuai hasil. Dosis obat yang ia konsumsi semakin rendah, dan tubuhnya menjadi segar bugar. Beberapa orang sering mengingatkan kita tentang pentingnya berpikir positif untuk menghasilkan energi positif dan merubah setiap keadaan menjadi lebih baik. Ternyata hal ini benar manfaatnya. Di bidang kesehatan saja, pikiran positif sudah terbukti mempermudah kesembuhan seseorang dari penyakit.