Skip to main content

Tubuh, Jiwa dan Roh Manusia


Tubuh, Jiwa (Soul) dan Roh (Spirit) - ketiganya adalah dalam satu kesatuan, saling bekerja sama, saling berkomunikasi, dan saling menciptakan keseimbangan yang selaras. Jika terjadi ketidak selarasan diantara ketiganya, maka terjadilah berbagai masalah pada diri manusia, yang antara lain berupa: gangguan kesehatan, emosi, serta banyaknya hambatan dalam kehidupan.

Bila kita analogikan istilah di dunia komputer, maka Roh itu ibarat program, sedangkan Jiwa ibarat harddisk-nya, dan tubuh fisik kita ini ibarat printer-nya.

Jadi bila programnya Roh itu berupa niat negatif, maka print out yang akan diwujudkan oleh tubuh kita juga akan negatif! Program dari Roh kita yang berupa niat positif maupun negatif, semuanya akan menetap sebagai memori yang akan disimpan dalam harddisk yaitu di dalam jiwa kita. 

Pada bayi, unsur jiwa yang berkembang barulah berupa adanya perasaan. Sehingga pada anak bayi... yang banyak berperan adalah Roh nya. Sehingga bayi bisanya hanya menangis saja, bila dia merasa lapar atau haus.

Setelah bertumbuh menjadi anak-anak... unsur kemauan mulai berkembang. Sehingga pada diri anak-anak mulai memiliki perasaan dan kemauan, meskipun belum terbentuk dengan baik.  Setelah anak bertumbuh menjadi dewasa, barulah mereka dapat berpikir positif, berkemampuan mental dan emosional. Selanjutnya perkembangan jiwa akan terus berlanjut, dan sangat dipengaruhi oleh pengalaman hidup yang dilewatinya. Perkembangan jiwa yang baik dari seseorang diharapkan dapat meningkatkan kesadaran jiwa dan spiritualitasnya.

Love~light~joy
Sonny Sumarsono Wuryadi
Photo courtesy: huffingtonpost.com

Popular posts from this blog

Kehidupan Setelah Kematian

Janganlah takut mati! Karena ini adalah proses alami, layaknya proses ular yang berganti kulit. Mati hanyalah proses matinya tubuh fisik dan keluarnya roh atau jiwa dari raga, guna melanjutkan perjalanan jiwa menuju alam dan dimensi yang lain. Roh atau jiwa tetaplah hidup! Bahkan pikiran, keinginan, dan obsesi kita tetaplah ada. Dalam bukunya Life after life , Raymond Moody menuturkan kehidupan setelah kematian sebagai berikut:   Setelah seseorang meninggal dunia, maka dia merasa dirinya keluar dari raganya, sehingga dia bisa melihat raganya yang tergeletak di tempat tidur ditunggui sanak keluarganya yang sedang meratapi meninggalnya. Dan dia ingin menghibur, namun tidak seorangpun yang bisa mendengar kata-katanya.

Waktu Kita Terbatas

Ono tangis layung - layung, tangising wong wedi mati, Gedhongana, kuncenana... yen mati datan wurunga! Ibaratnya, dijagai dengan tembok yang tebal dan pintunya pun digembok dengan seribu kunci, bagaimanapun faktanya manusia tidak akan bisa menghindari kematian. Manusia tidak mungkin hidup lebih dari seratus tahun. Dengan menyadari keterbatasan umur manusia, seharusnya kita menyadari bahwa waktu kita sangat terbatas, terutama dalam upaya menemukan rahasia kehidupan serta menjalani kehidupan yang bermakna. Mengingat tidak banyak lagi waktu yang tersisa yang kita miliki, maka pertanyakan pada diri kita masing-masing... ."Apakah yang bisa saya lakukan guna memanfaatkan waktu tersebut secara bijaksana?"

Terapi Warna | Sederhana dan Mudah!

Bukalah lemari pakaian Anda... biarlah batin Anda menuntun busana mana yang seharusnya Anda kenakan hari ini? Batin Anda pasti akan menunjukkan warna pakaian yang sesuai dengan kebutuhan Anda saat ini! Bila diri Anda perlu ketenangan... pasti pilihan Anda jatuh pada busana berwarna biru langit atau hijau muda. Ini adalah bagian dari terapi warna! Sederhana dan mudah sekali bukan?