Skip to main content

Cinta Tak Bersyarat | Seni Hidup Bahagia


Setiap hubungan seharusnya dilandasi dengan cinta tak bersyarat. Itu berarti “ Saya mencintaimu apa adanya!”. Tak ada syarat apapun yang harus dipenuhi sekarang maupun nanti. Saat Anda mencintai seseorang tanpa syarat, Anda telah mengirimkan isyarat yang kuat, bahwa Anda menerima dia apa adanya... dia tidak harus menurunkan berat badannya, dia tidak harus meninggalkan kebiasaan merokoknya atau harus mencapai gelar doktornya terlebih dahulu atau hal-hal lain yang Anda pandang lebih baik lagi.

Apa adanya berarti... yang terlihat seperti apapun adanya. Cinta tanpa syarat membuat dia merasa aman, terlindungi, dan kokoh di dalam dirinya, serta berani tampil apa adanya. Sehingga dia akan dapat fokus pada pertumbuhan dan perubahan diri, tanpa khawatir mengekspresikan dirinya, dan cemas mendapatkan penolakan dari Anda.

Melihat Anda mengekspresikan cinta tak bersyarat ini, dia pun juga akan berubah dan melakukan konsep yang sama.....cinta yang tidak bersyarat dan tidak bertepi! Insya Allah!

Love~light~joy
Sonny Sumarsono Wuryadi

Photo courtesy of womenshealthmag.com

Popular posts from this blog

Anak Yang Tidak Dikehendaki

  Anak yang ketika di dalam kandungan tidak dikehendaki dan berusaha digugurkan, maka ketika lahir dan tumbuh besar nanti, tanpa sadar jiwanya akan terus memberontak terhadap orang tuanya dengan berbagai macam cara dan ulah. Hubungan anak dan orang tua selalu diwarnai dengan kemarahan, saling menyalahkan, dan sering berakhir dengan perpisahan.   Anak itu sendiri seringkali tidak mengerti mengapa dia bisa berbuat seperti itu... selalu melawan, selalu tidak ada kecocokan, dan selalu membuat bermacam ulah. Bahkan kadang-kadang tanpa alasan yang jelas.   Hal seperti ini sebenarnya terjadi karena, jiwa si anak sewaktu dalam kandungan dapat menangkap bahwa kelahirannya di dunia ini sebetulnya tidak dikehendaki. Luka batin ini terekam dalam alam pikiran bawah sadarnya, terbawa hingga tumbuh besar nanti, dan diwujudkan dalam bentuk pemberontakan.  

Renungan | Tentang Kehidupan Manusia

  Para filosof memiliki dua pandangan yang berbeda dalam memandang hidup manusia. Ada yang pesimis , sehingga memandang hidup ini penuh penderitaan, kesulitan, dan kesedihan, lalu berakhir dengan kehancuran atau kepunahan. Namun ada pula yang berpandangan bahwa hidup ini sebagai pembelajaran dan tanggung jawab , yang berakhir dengan kebahagiaan dan kekekalan setelah kematian.   Bagi yang berpandangan pesimis, mereka meyakini bahwa manusia diciptakan hidup di dunia ini memang untuk menderita , karena itu mereka akan menyambut kematian dengan suka cita sebagai akhir dari segala penderitaan.  

Renungan | Welas Asih

Welas asih itu lahir dari adanya penderitaan, seperti halnya bunga teratai yang mekar dan berkembang diatas lumpur.   Penderitaan merupakan bagian penting dalam pertumbuhan. Bila kita tidak mengenal kepedihan dan penderitaan, kita tidak akan memahami kepedihan dan penderitaan orang lain. Kepedihan dan penderitaan kita, akan memaksa kita untuk memahami diri kita sendiri, dan orang lain, serta membantu kita untuk belajar mengenal pengampunan.   Ketika kita mengambil tanggung jawab atas penderitaan kita, dan tidak menyalahkan atau mencela orang lain atau diri kita sendiri, hati kita akan membuka dan kita akan mampu memahami dan mengalami welas asih untuk diri kita maupun orang lain. 

BLOG ENTRY

Show more