Skip to main content

Cari dan Temukan Dia!


Diri kita yang sejati, Dialah yang mengetahui "sangkan-paraning dumadi" - dari mana, mau ke mana, dan untuk apa kita terlahir di dunia, Dialah yang mengetahui apa sebenarnya misi hidup kita ini. Dialah yang mendapatkan dan menyimpan pembekalan segala macam karunia dariNya. Dialah yang paling mengetahui perjalanan hidup yang harus kita jalani. 

Karena itu, cari dan temukan DIA!

Love~light~joy

Popular posts from this blog

Waktu Kita Terbatas

Ono tangis layung - layung, tangising wong wedi mati, Gedhongana, kuncenana... yen mati datan wurunga! Ibaratnya, dijagai dengan tembok yang tebal dan pintunya pun digembok dengan seribu kunci, bagaimanapun faktanya manusia tidak akan bisa menghindari kematian. Manusia tidak mungkin hidup lebih dari seratus tahun. Dengan menyadari keterbatasan umur manusia, seharusnya kita menyadari bahwa waktu kita sangat terbatas, terutama dalam upaya menemukan rahasia kehidupan serta menjalani kehidupan yang bermakna. Mengingat tidak banyak lagi waktu yang tersisa yang kita miliki, maka pertanyakan pada diri kita masing-masing... ."Apakah yang bisa saya lakukan guna memanfaatkan waktu tersebut secara bijaksana?"

Hilangnya Memori Ingatan

Dalam praktek pelayanan penyembuhan di tempat saya, pernah beberapa kali saya kedatangan orang yang mengalami gangguan kehilangan memori ingatan pribadinya waktu kecil, bahkan sampai tidak bisa mengingat lagi saat-saat berbahagia di pesta pernikahannya.   Pada umumnya, kasus kehilangan memori pribadi semacam itu disebabkan adanya kerusakan atau cedera pada jaringan otak, akibat adanya benturan , yang biasa disebut uncinate fasciculus . Bagian depan otak yaitu cuping temporal, disisi kanannya, merupakan bagian penting otak yang menyimpan memori pribadi tentang episode peristiwa yang telah dilewati di masa lalu. Disinilah tersimpan segala pengalaman "otobiografi" seseorang.

Pengalaman Hidup Itu Mendewasakan

Bila dalam rumah tangga terjadi huru-hara, gojang-ganjing, para orang tua pada umumnya akan mencegah keterlibatan anak-anak dalam urusan mereka dengan alasan kasihan. Suami-istri ini berusaha sekuat tenaga untuk mencegah anak-anak terlibat. Dan mereka takut anak-anak itu akan ikut terguncang dengan gonjang-ganjing masalah mereka. Namun, bagaimanapun juga setiap hari anak-anak itu akan berhadapan dan merasakan suasana yang sangat tidak nyaman ini. Dengan ketidak tahuan mereka, anak- anak akan tetap berpikir dan bersikap. Nah, dengan melihat kenyataan seperti ini.... apakah maksud baik suami-istri, yaitu dengan mencegah keterlibatan anak-anak, berarti pula mencegah anak-anak mereka untuk mengalami pendewasaan?